Posted by: beraona | May 8, 2012

DI BAWAH NAUNGAN POHON BUDI

MATAHARI yang bersinar penuh baru saja naik sepenggalah. Dari teras rumahnya yang asri, Pater Yan Perason Bataona memandang pohon yang menjulang di jantung kampung Lamalera, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Mata pria 71 tahun yang juga salah satu kepala suku Bataona itu terus lekat pada pohon rindang yang telah berusia ratusan tahun itu.
Masyarakat di sana menyebutnya dengan Pohon Budi (Gudi). Pohon tersebut tumbuh jauh sebelum gereja Ka-tolik berdiri di kampung itu pada sekitar 1886. “Dari dulu sampai sekarang, pohon itu tak pernah berubah,” ujarnya.
Yan Perason masih ingat tatkala ia masih bocah, pohon itu sempat meranggas lalu mati. Masyarakat kemudian menanam kembali bibit pohon sejenis di tempat yang sama. Ketika tumbuh dan meninggi, pohon itu menjelma persis seperti pohon Budi sebelumnya yang telah mati. “Itu sungguh unik dan misterius.”
Sepintas lalu, pohon Budi mirip dengan beringin. Dahannya bercabang-cabang dan berdaun rindang membentuk sebuah tudung. Lingkar pohon itu kira-kira dua pelukan orang dewasa. Pohon itu dikitari empat rumah besar milik kepala adat suku Bataona, Batafor, Beding, dan Keraf.
Namun, bukan asal usul yang membuatnya luar biasa. Posisinya dalam tatanan masyarakat Lamalera-lah yang menjadikan pohon Budi berbeda dengan yang lain. Kendati sudah ada gereja dan balai desa, di bawah pohon itulah segala soal di Lamalera diselesaikan. “Mulai dari persoalan adat hingga perselingkuhan dibicarakan di situ,” katanya.
Yan lalu menceritakan sebuah peristiwa di tahun 1994. Ketika itu, sekitar tiga puluh nelayan Lamalera tertimpa musibah. Dua pledang yang mereka tumpangi ketika berburu paus terseret hingga ke perairan Australia. Mereka akhirnya dinyatakan hilang dan dianggap mati di laut setelah empat hari tidak juga diketemukan.
Tiba-tiba mereka muncul pada hari kelima dengan menumpang kapal feri dari Larantuka, NTT. Penduduk kampung itu pun gempar. Soalnya, menurut adat, orang-orang yang telah dinyatakan mati tak bisa langsung bergabung dengan keluarganya. Jadilah mereka tertahan di atas feri, menunggu prosesi “menghidupkan mereka kembali”.
Prosesi itu digelar di bawah pohon Budi dipimpin tiga tetua adat. Sekitar setengah jam berselang, para tetua adat itu menghampiri para nelayan yang dinyatakan mati di atas feri. Ketika balik lagi ke kampung, sang tetua adat itu bertanya kepada beberapa perwakilan suku yang berkumpul di bawah pohon Budi, apakah mereka yang dianggap telah mati itu bisa diterima kembali. Semua yang hadir secara aklamasi setuju mereka bisa diterima kembali.
Pohon Budi juga berfungsi sebagai tempat melangsungkan prosesi pernikahan. Namun, setelah agama Katolik masuk, mereka bisa memilih menikah di bawah pohon itu atau di gereja yang cukup megah di sana. Sedangkan untuk resepsinya boleh dilaksanakan di rumah adat masing-masing.
Entah sudah berapa pasangan yang sudah dinikahkan di bawah rindang pohon Budi, juga entah berapa banyak masalah yang sudah diselesaikan di sana. Yang jelas, pohon Budi telah menjadi saksi bisu sejarah yang bergulir di kampung nelayan itu selama lebih dari 500 tahun.
Sabtu malam awal Juli lalu, pohon itu kembali menjadi saksi sejarah penting yang tergelar di Lamalera: Rekonsiliasi. Prosesi penerimaan perwakilan suku Sikka yang terusir sekitar tiga ratus tahun dari Lama-lera dilangsungkan di lapangan di bawah pohon misterius itu. Mereka berpelukan, bertangisan, di bawah naungan pohon Budi yang membisu. (jdz)

21 Agustus 2006


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: