Posted by: beraona | April 2, 2012

TRADISI SEMANA SANTA DI KOTA REINHA

SAAT Paskah tiba, masyarakat Flores, punya cara unik merayakannya. Paskah tak hanya diperingati secara keagamaan dengan misa. Masyarakat juga menjalani ritual peninggalan budaya nenek moyang. Budaya tradisi masih bertahan hingga kini dan menjadi daya tarik bagi turis lokal dan mancanegara. Ke Larantuka, masyarakat dari berbagai gugusan pulau di NTT datang. Larantuka menjadi destinasi wisata religi sepanjang minggu ini.
Siapa saja boleh ikut serta. Tak hanya umat Katolik yang merayakan ritual Paskah karena, di Larantuka, perayaan Paskah merupakan paduan tradisi budaya suku dan ritual keagamaan umat Katolik.
Ribuan orang berkumpul mengikuti tradisi Paskah di Larantuka. Larantuka mulai dipenuhi pengunjung sejak Minggu Palem hingga puncak acara Jumat Agung. Saat ini, warga dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan dari mancanegara, berbondong-bondong menuju Larantuka. Delegasi dari Vatikan dan Portugal, tak pernah alpa. Pemerintah pusat, dalam dua tahun terkahir, diwakili oleh Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam) Purnomo Yusgiantoro bersama rombongan, dan petinggi dari sejumlah partai politik.
Meski begitu, tidak semua warga merayakan di Larantuka. Masyarakat di Lamalera, misalnya, memiliki tradisi perayaan Paskah tersendiri.

Kota unik, Larantuka, terletak di wilayah timur Pulau Flores dan dikenal pula dengan nama Kota Reinha (Bahasa Portugis) yang artinya Kota Ratu atau Kota Maria. Setiap tahun, sekitar seminggu menjelang Paskah, kota Larantuka dengan khidmat merayakan Minggu Suci yang dikenal sebagai Semana Santa. Perayan ini dimulai pada hari Rabu dikenal dengan istilah Trewa Rabu pada pertengahan minggu dan puncak prosesi pada perayaan Jumat Agung atau Sesta Vera. Sejak hari Rabu itulah kota Larantuka berubah menjadi kota berkabung untuk mengenang sengasara, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus.
Pada waktu perayaan Jumat Agung, pada pagi hari diadakan arak-arakan Tuan Menino (bayi Yesus) dilakukan lewat laut dari Kota Rewido menuju Pante Kebi, dengan menggunakan perahu dayung kecil, diikuti perahu-perahu lain.
Sebagai acara puncaknya akan diadakan perarakan patung Yesus Kristus (Tuan Ana) dan Bunda Maria (Tuan Ma). Prosesi ini menempatkan Yesus sebagai pusat ritual dan memposisikan Bunda Maria (Reinha Rosari) sebagai ibu yang berkabung (Mater Dolorosa) karena menyaksikan penderitaan Yesus anaknya sebelum dan saat disalib, dimulai dari Katedral Larantuka dan keliling kota Larantuka melewati 8 armida (perhentian/stasi), yang akan berlangsung hingga dini hari. (josh diaz)

Tulisan ini dimuat Harian Umum VICTORY NEWS

Edisi Minggu, 01 April 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: