Posted by: beraona | March 3, 2012

Duh Elijah Dethan….

“Salah Transfusi Darah, Bayi WNA Tewas di NTT,” begitu headline sebuah situs berita online di Jakarta, edisi Rabu (15/2). Berita yang dilansir dari Harian Umum Victory News itu, akhirnya menjadi heboh di Kanada setelah mendapat laporan dari Kedubes Kanada di Jakarta. Jakarta pun panik karena sudah menyangkut harkat dan martabat bangsa dan hubungan bilateral dengan Kanada. Duh Elijah….!

ALIJAH Dethan, bayi 11 bulan, telah kembali ke Haribaan Sang Empunya Hidup. Ia sudah tenteram di rumah kedamaian abadi, meski kematiannya menjadi heboh karena dugaan malpraktek. Ada kesalahan prosedur secara medis hingga Elijah meninggal. Banyak yang (mungkin) tidak kenal Elijah, termasuk orang tuanya, Pdt Johnson Dethan dan Ny Marlin Dethan Deboer. Hanya orang-orang dekat dan kerabat, yang selalu berinteraksi sehari-hari dengan orang tuanya, yang mengenal keberadaan Elijah dan keluarganya.

Tapi tiba-tiba nama itu menjadi buah bibir publik karena nasib tragis yang dialami. Ia harus meregang nyawa setelah ada kesalahan prosedur medis di RSIA Dedari hingga diduga meninggal karena malpraktek. Simpati kemanusiaan publik pun mengalir bagi Elijah dan keluarganya. Elijah menjadi perbincangan publik karena Elijah adalah anak blasteran Kanada dan Rote (Indonesia).

Setelah dilaporkan ke Polresta Kupang dengan dugaan malpraktek, Komisi Nasional Perlindungan Anak langsung turun tangan; menginvestigasi dugaan malpraktek atas balita berkebangsaan Kanada itu. “Kedutaan memantau kasus ini. Sebenarnya Kedutaan mengambil alih penangananya namun karena Mabes Polri sudah menurunkan tim sehingga kedutaan hanya memantau,” kata Johnson Dethan, ayah Elijah kepada VN.

Senin (13/2) siang, menjadi hari tragis bagi Elijah. Ia meninggal dunia beberapa menit setelah mendapat transfusi darah dari petugas medis Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Dedari Kupang. Ibunda Elijah, Marlin Dethan Deboer kepada VN berkisah, putranya meninggal setelah dilakukan transfusi darah dengan cara menyuntik langsung ke urat nadi oleh perawat tanpa menggunakan selang infus. Menurutnya, hasil pemeriksaan tim medis awal, anaknya menderita penyakit disentri sehingga harus dioperasi.
“Anak saya kemudian dibawa ke RSIA Dedari untuk menjalani operasi Sabtu (11/2). Setelah operasi, anak saya membaik. Namun setelah transfusi darah karena HB anak saya hanya 7,5, tapi berselang 2 sampai 5 menit anak saya kejang-kejang lalu meninggal,” kata dia. Atas kejanggalan atas meningalnya Elijah, keluarga memutuskan melaporkan ke Polresta Kupang. “Kami percayakan kepada aparat penegak hukum,” ujar Merlin sambil berurai air mata.

Hasil investigasi Komnas Perlindungan Anak, menurut Aris Sirait Merdeka, membuktikan korban meninggal karena adanya perbedaan golongan darah saat transfusi.  “Diduga ada kesalahan transfusi darah yang berdampak pada tewasnya korban,” kata Ketua Komnas Anak ini. Sebab, menurutnya, hasil pemeriksaan laboratorium Prodia Kupang, golongan darah korban O, tetapi hasil pemeriksaan RS Dedari golongan darah korban B. “Komnas Anak mendesak agar izin RS Dedari Kupang ditinjau kembali karena kelalaian yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia,” tegas Aris.

***

SETELAH diblow-up oleh Koran ini, kasus Elijah perlahan mulai menampakan titik terang. Setidaknya, pihak kedokteran yang begitu sulit disentuh karena berlindung dibalik etika profesi, mulai menyadari kalau ada kesalahan prosedur yang dilakukan angota IDI. Apalagi, kasus Elijah menyangkut kedaulatan bangsa di mata Negara sahabat Kanada. IDI pun gusar karena terus dipaksa menjelaskan esensi sebuah malpraktek. Tapi info soal itu tak pernah terang dari ruang IDI. Publik pun tetap tak mengerti bagaimana si yang namanya malpraktek versi IDI.

Yang menarik, Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK) turun tangan, memediasi kasus ini mempertemukan keluarga korban dan pihak RSIA Dedari. Dalam pertemuan Jumat (2/3) di kantor ID NTT, ada fakta baru yang diungkap oleh keluarga Elijah, bahwa setelah Elijah menghembuskan nafas, ayahnya Johnson langsung mendapat tekanan dan ancaman dari dr Sahadewa agar tidak mempersoalkan kasus itu. Keluarga dilarang melapor kasus ini ke polisi, apalagi kepada media massa untuk dipublikasi. Bayangkan, betapa tidak ada rasa kemanusiaan dari seorang Sahadewa terhadap keluarga Elijah yang sedang berduka. Apakah sang dokter sudah tidak ada perasaan kemanusiaan terhadap nyawa seorang Elijah, anak Tuhan yang tak berdosa? Apakah ini indikasi kalau meninggalnya Elijah karena malpraktek? Inilah yang mestinya didalami kepolisian untuk bisa menyimpulkan kalau kasus ini adalah malpraktek, sembari menunggu hasil laboratorium forensik dari Mabes Polri yang tak kunjung ada?

Pertemuan antara MKEK dan IDI serta saksi korban yang  diwakili ayah korban, yang juga dihadiri nenek dan kakek Elijah dari Kanada, untuk mendengar pendapat dan kronologi meninggalnya bayi Elijah. Di forum itu terungkap keganjilan dibalik meninggalnya Elijah. Keganjilan itu terbaca saat proses transfusi darah yang  berjalan secara tidak logis. Sebab, prosesnya tidak melibatkan keluarga. Tak hanya itu, diagnosa disentri oleh dokter anak, dr Frans Taolin, juga tidak disertai dengan hasil laboratorium.

Kejanggalan lainnya, menurut ayah korban, ketika bayi Elijah meninggal, selang 20 menit, dia dipanggil dr Sahadewa dan meminta untuk tidak memperlebar urusan ini serta tidak membukanya ke media massa. Jika sampai dilakukan dia akan menuntut keluarga korban. “Pak kan Pendeta, jadi jangan Koran kan ini dan jangan lapor polisi, jika tidak saya akan tuntut balas,” kata Johnson menirukan ucapan Sahadewa saat itu. Ancaman yang sama juga disampaikan kepada Pendeta Edward Dethan, adik Jhonson.  Nah, inilah yang makin memperkuat kecurigaan bahwa ekspresi ketakutan Sahadewa ini menunjukkan ada yang tidak beres atas kematian Elijah. Pengakuan polos itu membuat MKEK dan IDI diam seribu bahasa. Sahadewa pun pucat pasi mendengar pengakuan itu. Ketika dikontak ke polselnya, Sahadewa mengelak dituding mengintimidasi keluarga korban.  “Saya tidak mungkin melakukan itu,” ujarnya. Pada prinsipnya, kata dia, RSIA Dedari juga ingin tahu penyebab kematian Elijah. Sahadewa juga membantah telah melakukan malpraktek. Karena malpraktek harus memenuhi empat unsur, yakni kesengajaan, kerugian, hubungan langsung dan prosedur. “Jadi belum bisa dikatakan kasus ini malpraktek,” katanya.

Ketua MKEK, dr Samson Ehe Teron, juga tak bisa buat apa-apa. Ia masih mengkaji dan memproses kasus Elijah dengan membentuk tim tujuh melibatkan dokter spesialis anak, bedah dan anestesi. “Kami tidak mengurus secara hukum pidana, tapi menangani dokter yang bermasalah ditinjau dari kode etik kedokteran,  kemudian memberi sanksi sesuai berat ringan masalahnya,” kata dr Samson.

Yang masih jadi soal saat ini adalah hasil lab forensik dari Mabes Polri yang tak pernah jelas kapan diumumkan. Polresta Kupang pun tak bisa beranjak lebih jauh untuk memproses kasus ini, karena belum ada hasil lab forensik itu. Padahal, otopsi sudah dilakukan sehari setelah korban meninggal, namun hasilnya yang dijanjikan Dokter Forensik Mabes Polri, Ajun Komisaris Besar Pol Adang Asyar, akan keluar setelah satu minggu, tak pernah diumumkan.

Kasubag Humas Polresta Kupang, AKP Simon Satu  mengatakan, hasil otopsi Elijah belum diperoleh. “Kami masih menunggu hasil otopsi dari forensik Jakarta. Walaupun hasil belum dikirim, polisi tetap melakukan upaya penyelidikan sesuai dengan laporan keluarga. Beberapa saksi sudah diperiksa,”  katanya.

Berliku

Karena proses kasus Elijah tak pernah terang, kakek dan nenek Elijah, Kornelis De Boer dan Ann de Boer Van de Haak, harus datang khusus dari Kanada untuk memantau langsung kasus cucunya ini. Keduanya datang dengan misi khusus, menuntut pemerintah Indonesia segera menuntaskan kasus ini. Warga Kanada keturunan Belanda ini sengaja datang untuk mengikuti proses dengar pendapat dengan MKEK dan IDI NTT.  “Kami merasa dokter dan paramedis di Kupang tidak jujur dalam penanganan kasus kematian cucu kami. Mohon supaya aparat tuntaskan secepatnya,” tegas Kornelis dalam bahasa Inggris kepada VN.

Ia menilai, pihak aparat kepolisian lamban dan terkesan membiarkan kasus ini tenggelam. “Bagi kami,  penanganan kasus ini terlalu lama dan ada upaya untuk melupakan. Kami banyak mendapat simpati dari warga Kanada dan gereja. Dan kami sudah menulis surat kepada Kedubes  Kanada di Jakarta untuk serius memperhatikan kasus ini,” katanya.

Tak cuma itu, menurut Ann, sebagai orang Belanda ia telah mendapatkan ribuan tanda tangan untuk mempertanyakan keseriusan Pemerintah Indonesia kenapa begitu lama mengeluarkan hasil uji forensik cucunya.  “Kami tidak akan diam. Kami akan terus bicara, sampai kasus ini ada kejelasan. Dalam Facebook, newsletter, koran-koran di Belanda, dan Kanada akan terus kami bersuara,”  tegas Ann.

Menurut Ann, anak perempuannya yang juga staf Kedubes Kanada di Kupang, mendapat dukungan meluas dari teman-teman dan sejawat di Kanada maupun Belanda. “Kami berencana membuat petisi atau pengumpulan tandatangan dan suara kepada Pemerintah Kanada untuk meminta penjelasan kepada Pemerintah Indonesia. Biar semua menjadi lebih jelas dan menjadi pembelajaran bagi kita semua bagaimana memperhatikan nyawa manusia,” ujarnya.

Kasus Elijah menjadi taruhan martabat bangsa dan daerah ini. Karena itu, demi hubungan baik dengan Kanada, kasus Elijah harus diusut tuntas, seperti yang diharapkan Kapolda NTT Brigjen Pol Ricky Sitohang.  Jangan lagi ada tembok-tembok birokrasi, terutama keinginan keluarga dan publik untuk segera mengetahui hasil uji laboratorium forensik di Mabes Polri. Keselamatan manusia adalah hukum tertinggi yang tidak boleh dihalangi oleh etik dan rahasia profesi apapun.  (josh diaz)

Dimuat di Victory News

Edisi Minggu, 04 Maret 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: