Posted by: beraona | February 29, 2012

NYANYIAN LAUT DARI LAMALERA

KETIKA musim berburu tiba, seorang tetua adat di masyarakat Lamalera, Lembata, selalu menggelar upacara pemanggilan. Mulutnya komat-kamit, melambungkan seruan agar kawanan ikan paus mendatangi perairannya. Orang Lamalera percaya panggilan ini didengar. 

Sejak Mei sampai September, puluhan paus selalu merangsek mendekati pantai. Orang-orang Lamalera segera mengepungnya dengan sejumlah perahu, lalu menikamnya dengan mata tombak bertali. Terkadang buruan bisa dilumpuhkan, tapi kerap malah mengamuk dan menyeret para nelayan bahkan sampai ke perairan Australia. Bagi mereka, menikam paus sudah menjadi tradisi sekaligus seni.

Baleo…, baleo…, baleo...!” Teriakan tanda berkumpul ini selalu meletus di tepi perairan Sawu. Orang-orang yang hilir-mudik di pantai menoleh serempak ke tengah lautan. Anak-anak yang bermain berlarian di atas pasir basah pun terpaku sejenak. Di lautan nan biru, tampak semburan air ke udara, pertanda kawanan ikan paus telah datang.

Seruan itu dipekikkan terus, sambung-menyambung hingga bergema di kampung masyarakat Lamalera. Hampir semua kaum laki-laki segera menghentikan segala kesibukan. Mereka buru-buru menuju “pledang”, perahu pemburu paus, yang diparkir di pantai. Dengan sigap sekitar 12 lelaki tampak mendorong pledang ke laut. Tanpa menunggu rombongan lain yang masih mempersiapkan diri, mereka meluncur ke tengah sambil mengembangkan layar. Perburuan pun dimulai.

Setelah dekat dengan lokasi mamalia laut itu, mereka menggulung layar. Kayuhan dayung pun dihentikan. Suasana menjadi hening. Mereka membiarkan pledang masing-masing bergoyang-goyang dipermainkan ombak. Mata lama fa, sang juru tikam, pada tiap perahu tampak awas.

Begitulah cara orang Lamalera berburu paus. Kegiatan ini dilakukan setiap saat ketika ada tanda-tanda kawanan mamalia laut itu merangsek ke dekat pantai. Tak ada yang tahu persis sejak kapan tradisi ini dimulai. Sesepuh Lamalera, Petrus Blikololong, menuturkan, “Ssebelum gereja katholik berdiri pada 1820, nenek moyang kami sudah berburu paus”.

Bagi masyarakat Lamalera, berburu paus, penduduk setempat menyebut ikan ini dengan nama “koteklama”, tak sekadar sebagai sumber penghidupan. Orang Lamalera menganggap berburu paus sebagai tradisi, sebuah perhelatan yang dinikmati orang sekampung.

Peralatan yang dipakai pun amat sederhana. Mereka berburu memakai perahu kayu yang disebut pledang. Alat tikamnya galah bambu berujung tombak besi bertali yang disebut tempuling. Tak ada sentuhan benda modern seperti kapal motor ataupun harpun. Masyarakat Lamalera memandang, mendapat paus dengan mudah bukanlah seni berburu yang sebenarnya.  (josh diaz)

Telah dipublikasi di Harian Umum VICTORY NEWS,

Edisi Minggu 26 Februari 2012


Responses

  1. Unik sekali tradisi kelautan di Lamalera Kab Lembata, penelusuran peta NTT Kab Lembata nun di Utara ya. Salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: