Posted by: beraona | January 25, 2012

MARI BICARA KEMENANGAN

Editorial Perdana Harian Umum VICTORY NEWS

Oleh : Josh Diaz

UNTUK pertama kalinya dalam sejarah pers Indonesia, kebebasan pers baru diakui secara konstitusional setelah 54 tahun Indonesia merdeka secara politik, yaitu dalam UU Nomor 40/1999 tentang Pers. Meskipun demikian, pengertian kebebasan pers belum dimengerti secara merata oleh publik Indonesia. Bahkan para pejabat dan kalangan pers sendiri pun, yang mestinya lebih mengerti, masih ada yang kurang paham mengenai makna dan pengertian kebebasan pers yang sesungguhnya.Oleh karena mengemban tugas luhur dan mulia itulah, pers yang bebas juga harus memiliki tanggung jawab, yang dirumuskan dalam naskah Kode Etik Jurnalistik atau Kode Etik Wartawan Indonesia sebagai “bebas dan bertanggung jawab.” Belakangan, pengertian “bebas” menjadi kabur, terutama di zaman pemerintahan Presiden Soeharto, gara-gara sikap pemerintah yang sangat represif, sementara pengertian “bertanggung jawab” dimaknai sebagai “bertanggung jawab kepada pemerintah.” Padahal, yang dimaksud dengan bebas ialah bebas dalam mengakses informasi yang terbuka; sementara yang dimaksud dengan bertanggung jawab ialah bertangung jawab kepada publik, kebenaran, hukum, common sense, akal sehat.

Kebebasan pers bukanlah semata-mata kepentingan pers itu sendiri, melainkan kepentingan rakyat banyak. Namun, karena publik tidak mungkin bisa mengakses informasi secara langsung, maka diperlukanlah pers. Yakni pers yang bebas. Bukan bebas dalam arti kata “semaunya sendiri” melainkan bebas mengakses informasi, bebas meliput, bebas menulis dan menyatakan pendapat, dengan catatan harus bertanggung jawab. Dengan demikian, pers tiada lain adalah “kepanjangan tangan” atau “penyambung lidah” atau “pembawa amanah” dari hak-hak sipil atau hak-hak demokrasi.

Sebagai koran baru di NTT yang berbasis di Kota Kupang, Harian Umum VICTORY NEWS mengemban misi pers yang ideal sebagai alat kepentingan orang banyak untuk melakukan social control terhadap kekuasaan secara bebas, terbuka, jujur, bertanggungjawab, atas hal-hal yang dianggap menyeleweng dari nilai-nilai kebenaran, demi terciptanya keseimbangan dan pemerataan pembangunan yang berkeadilan

Victory News hadir membawa kultur baru di dunia pers NTT dengan tidak menjadi alat kepentingan salah satu golongan. Membuka katup isolasi yang selama ini membelenggu untuk menembus batas-batas primordialisme. Membawa spirit kemenangan untuk perubahan. Tidak menjadi alat propaganda partai politik tertentu atau konglomerat tertentu untuk melindungi megabisnisnya. Koran ini berupaya menerobos sekat-sekat perbedaan dan membuka cakrawala baru dalam komunitas pers di NTT. Wartawan VN pun tidak bekerja serampangan dalam peliputan berita di lapangan, pengemasan berita sampai pengelolaan managemennya. VN memberi ruang kepada publik untuk menyadari hak-hak sipilnya untuk berani menyuarakan aspirasinya, termasuk memprotes atau menggugat.

Selain itu, sebagai upaya rasional melakukan sejumlah terobosan untuk mengejar ketertinggalan, agar otonomi yang berporos pada rakyat bisa segera menjadi kenyataan. Jadi, diperlukan situasi kondusif bagi rakyat untuk terlibat aktif dalam seluruh derap pembangunan. Rakyat perlu didorong dan diberi kepercayaan untuk menjadi pelaku dalam proses pembangunan yang adil. Artinya, membuka akses bagi masyarakat terhadap berbagai informasi maupun kebijakan pembangunan daerah. Di sisi lain, rakyat juga perlu diberi kesempatan mengemukakan pendapat tentang apa ang perlu dan bisa dilakukan. Koran yang cerdas bermartabat ini membuka ruang secara adil bagi semua stakeholder pembangunan, dan mengedepankan dialog yang bermutu dan saling menguntungkan.

Spirit kemenangan (Victory) diidealkan menjadi jimat bersama untuk mengawal dan membangun NTT yang maju. Keberpihakan pun jelas; untuk semua tanpa ada perbedaan. Karena VN mengidam-idamkan sebuah pers yang ideal, termasuk bagaimanakah seharusnya jati diri seorang wartawan yang punya integritas diri. Atas amanat publik itu, VN bertanggung jawab kepada publik, kepada kebenaran, keadilan, kejujuran, common sense, dan akal sehat. Juga, benar-benar profesional, sedapat mungkin independen, memiliki integritas yang tinggi, dan berpihak kepada mereka yang lemah.

Sebuah idealisme besar yang terkandung dibalik kehadiran VN adalah menjadi bacaan wajib yang selalu dicari pembaca karena pemberitaan yang cerdas, berimbang, bertanggungjawab dan tetap berpegang teguh pada kode etik dan prinsip kerja jurnalisitik kekinian.

NTT butuh pers yang secara bebas dapat mewakili publik untuk mengakses informasi. Dari sinilah bermula apa yang disebut “pers bebas” (free press) atau “kebebasan pers” (freedom of the press) sebagai syarat mutlak bagi sebuah negara yang demokratis dan terbuka. Begitu pentingnya freedom of the press tersebut, Thomas Jefferson, Presiden ketiga Amerika Serikat (1743 – 1826), menulis, “Seandainya saya diminta memutuskan antara pemerintah tanpa pers, atau pers tanpa pemerintah, maka tanpa ragu sedikit pun saya akan memilih yang kedua”. Padahal, selama memerintah ia tak jarang mendapat perlakuan buruk dari pers AS.

Mari kita semua bicara kemenangan, keadilan dan kebenaran untuk NTT yang lebih baik, cerdas dan bermartabat. +++ jdz


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: