Posted by: beraona | December 16, 2011

BERBURUH PAUS; ANTARA TRADISI & SENI

KETIKA musim berburu tiba, seorang tetua adat di masyarakat Lamalera, Pulau Lembata, selalu menggelar upacara pemanggilan. Mulutnya komat-kamit, melambungkan seruan agar kawanan ikan paus mendatangi perairannya. Orang Lamalera, Nusa Tenggara Timur, percaya panggilan ini didengar.

Buktinya? Sejak Mei sampai September, puluhan paus selalu merangsek mendekati pantai. Orang-orang Lamalera segera mengepungnya dengan sejumlah perahu, lalu menikamnya dengan mata tombak bertali. Terkadang buruan bisa dilumpuhkan, tapi kerap malah mengamuk dan menyeret para nelayan bahkan sampai ke perairan Australia. Bagi mereka, menikam paus sudah menjadi tradisi sekaligus seni.

BALEO…, baleo…, baleo...!” Teriakan tanda berkumpul ini meletus pada suatu siang di tepi perairan Sawu, Nusa Tenggara Timur. Orang-orang yang hilir-mudik di pantai menoleh serempak ke tengah lautan. Anak-anak yang bermain berlarian di atas pasir basah pun terpaku sejenak. Di lautan nan biru, tampak semburan air ke udara, pertanda kawanan ikan paus telah datang.

Seruan itu dipekikkan terus, sambung-menyambung hingga bergema di kampung masyarakat Lamalera di Pulau Lembata. Hampir semua kaum laki-laki segera menghentikan segala kesibukannya. Mereka buru-buru menuju “pledang”, perahu pemburu paus, yang diparkir di pantai. Dan lihatlah, dengan sigap sekitar 12 lelaki tampak mendorong pledang ke laut. Tanpa menunggu rombongan lain yang masih mempersiapkan diri, mereka meluncur ke tengah sambil mengembangkan layar. Perburuan pun dimulai.

Tak lama kemudian, satu, dua, dan akhirnya tiga pledang lain menyusul. Sasarannya sama, menuju semburan ikan paus. Setelah dekat dengan lokasi mamalia laut itu, mereka menggulung layar. Kayuhan dayung pun dihentikan. Suasana menjadi hening. Mereka membiarkan pledang masing-masing bergoyang-goyang dipermainkan ombak. Mata lama fa, sang juru tikam, pada tiap perahu tampak awas.

Sekitar tiga jam mereka menunggu dalam buaian ombak. Sia-sia saja. Ikan paus yang sudah telanjur menyelam itu tak juga kunjung muncul. Akhirnya nakhoda keempat perahu memutuskan pulang lagi ke pantai. Arus air laut saat itu mulai deras, tidak mungkin paus akan muncul. “Ikan paus hanya mau timbul saat air tenang,” ujar Stevanus Fotu Bataona, 34 tahun, salah seorang pemburu.

Begitulah cara orang Lamalera berburu paus. Kegiatan ini dilakukan setiap saat ketika ada tanda-tanda kawanan mamalia laut itu merangsek ke dekat pantai. Tak ada yang tahu persis sejak kapan tradisi ini dimulai. Henrikus Kia Keraf, 59 tahun, Kepala Desa Lamalera Atas, hanya bisa bilang, “Sebelum gereja itu berdiri pada 1820, nenek moyang kami sudah berburu paus.”

Kegiatan itu tidak bisa disamakan dengan perburuan paus untuk keperluan komersial seperti yang dilakukan oleh nelayan di Jepang. Kalangan aktivis yang tergabung dalam Komisi Paus Internasional (IWC) memang mengecam perburuan mamalia luat yang mulai langka itu secara membabi-buta. Bagi masyarakat Lamalera, berburu paus—penduduk setempat menyebut ikan ini dengan nama “koteklama” atau “keraru”—tak sekadar sebagai sumber penghidupan. Orang Lamalera menganggap berburu paus sebagai tradisi, sebuah perhelatan yang dinikmati orang sekampung.

Peralatan yang dipakai pun amat sederhana. Mereka berburu memakai perahu kayu yang disebut pledang. Alat tikamnya galah bambu berujung tombak besi bertali yang disebut tempuling. Tak ada sentuhan benda modern seperti kapal motor ataupun harpun. Masyarakat Lamalera memandang, mendapat paus dengan mudah bukanlah seni berburu yang sebenarnya.

Pernah pada 1970-an Perserikatan Bangsa-Bangsa mengulurkan bantuan dengan mengirimkan ahli-ahli dari Norwegia untuk memberi pelajaran tentang cara menggunakan perahu bermotor dan harpun. Tapi warga Lamalera menolaknya mentah-mentah. Alasan mereka, “Kami tak perlu paus banyak-banyak.”

Teriakan “baleo” justru tak terdengar pada bulan-bulan Mei sampai September, saat musim berburu paus tiba. Pada kurun waktu itu kawanan paus biasanya lebih sering berkeliaran di sekitar perairan Pulau Lembata. Jadi, para nelayan tidak perlu menunggu tanda-tanda semburan paus. Mereka langsung mengarungi samudra tiap hari dan menikam paus yang tampak.

Awal musim perburuan ditandai dengan upacara khusus di sebuah batu berbentuk mirip paus pada setiap tanggal 1 Mei. Tak ada yang tahu mengapa tanggal ini yang dipilih. “Kami melakukannya karena kebiasaan saja, karena sejak zaman dahulu kami mengadakan upacara pada tanggal itu,” kata Stevanus.

Dipimpin oleh seorang tuan tanah—pemilik lokasi batu paus—upacara biasanya dilakukan pada sore hari. Tuan tanah sebenarnya orang biasa. Hanya, ia dituakan secara adat. Dialah yang berkomat-kamit, berdoa, memanggil agar kawanan paus segera datang ke pantai Lamalera. Warga setempat percaya, panggilan ini akan didengar oleh paus. Si tuan tanah juga memberi restu kepada para pemburu agar tak meleset menikam dan memperoleh hasil yang melimpah. Dari batu paus, upacara dilanjutkan dengan berdoa di sebuah kapel (gereja kecil) di tengah desa.

Warga Lamalera juga punya kebiasaan unik. Mereka pantang berburu pada hari minggu. “Itu hari untuk Tuhan. Kami semua pergi ke gereja dan dilarang berburu,” kata seorang pemuda setempat. Mereka memegang teguh aturan tak tertulis ini. Padahal tak ada sanksi khusus bagi mereka yang melanggar. Buat yang membandel, paling cuma beroleh teguran dari pastur. “Tapi, buat kami, ditegur di muka umum itu memalukan sekali,” kata Henrikus.

Perburuan paus dimulai pagi hari, sekitar pukul 06.00. Seperti yang dilakukan Stevanus pertengahan Agustus silam, mereka berangkat saat matahari mulai melimpahkan sinarnya. Sebelum berangkat, mereka berdiri khusyuk di samping pledang, memanjatkan doa agar diberi keselamatan. Lalu, bersama sepuluh kawannya, dia pelan-pelan meluncurkan perahunya ke lautan. Pagi itu cerah sekali. Dari arah timur sinar matahari mulai menampar permukaan air laut, menyemburatkan cahaya berwarna-warni.

Tak cuma rombongan Stevanus yang melaut pagi itu. Sekitar 10 pledang yang diisi 9-12 orang juga meluncur ke samudra. Pada musim berburu begini, semua penduduk, baik dari Desa Lamalera Atas maupun Lamalera Bawah di Pulau Lembata, bebas memilih pledang yang akan dinaiki. Tidak ada syarat khusus untuk ikut melaut. Semua penduduk Lamalera boleh bergabung. Bahkan anak-anak umur belasan tahun pun tak dilarang.

Setiap orang punya tugas masing-masing. Yang bertugas mengemudikan perahu disebut lama uri. Dialah yang bertanggung jawab membawa pledang mendekati paus sampai jarak yang aman. Lama uri alias nakhoda mempunyai tempat berdiri khusus, di ujung belakang perahu.

Orang kedua disebut lama fa alias juru tikam. Di Lamalera cuma ada sekitar 30 orang lama fa. Sebagai juru tikam, perannya amat penting. Tanpa dia, mustahil nelayan menyeret pulang seekor paus. Selama berlayar, lama fa harus terus-menerus berdiri di ujung depan perahu, mengawasi paus yang mungkin muncul.

Lama fa mempunyai seorang pembantu, disebut breung alep. Ia bertugas menjaga agar tali yang diikatkan ke tempuling tidak kusut. Selama berlayar, breung alep akan berdiri di belakang lama fa. Sisa penumpang yang lain bertugas sebagai matros: pendayung atau penguras air laut yang masuk ke pledang.

Para pemburu paus cuma berbekal satu jenis senjata: tempuling. Ini sebuah mata tombak dari besi sepanjang 60 sentimeter. Di belakangnya diikatkan tali sepanjang 20 meter. Ujung satunya diikatkan ke badan perahu. Bila akan dipakai menikam, tempuling dikaitkan ke ujung sebuah bambu sepanjang empat meter, yang berfungsi sebagai pegangan. “Tradisi kami cuma membolehkan kami membawa tempuling, tali, dan bambu saja untuk berburu,” kata Stevanus, sang juru tikam.

Setelah berlayar sekitar satu jam, rombongan Stevanus mulai memergoki ikan paus. Sekawanan paus, sebanyak tujuh ekor, sedang asyik bermain sambil sesekali menyemburkan air ke udara. Stevanus pun buru-buru menyiapkan tempulingnya. Dengan berdiri tegak di ujung perahu, ia berancang-ancang melempar tombaknya. Yang diincarnya seekor paus yang cukup besar, sekitar 12 meter panjangnya.

Ketika pledangnya sudah cukup dekat dengan paus, buru-buru dia melompat ke arah binatang itu sambil melemparkan tempuling. Hup….! Mata tombak bertali itu menembus tepat pada perut paus. Mamalia laut itu pun meronta kesakitan. Stevanus buru-buru berenang lagi menuju perahu untuk menyiapkan tempuling lagi.

Perahu-perahu yang lain pun ikut mengepung paus yang malang itu. Sejumlah tempuling menghujaninya lagi, membuat buruan itu kian menggelepar-gelepar. Dan akhirnya, wuuus..., paus itu menyeret sejumlah pledang. Tapi Stevanus dan kawan-kawannya malah kegirangan. “Irka, irka, irka…!” ujarnya bangga. Walau paus berusaha lari dengan menyeret pledang, lama-lama dia juga akan mati kehabisan tenaga. Para nelayan tinggal menunggu waktu saja.

Menurut Stevanus, mendekati paus mudah sekali karena rasa ingin tahu mamalia laut itu besar sekali. Ketika melihat pledang, misalnya, hewan raksasa ini malah datang mendekat. Yang susah justru cara menikamnya: harus mengenai titik-titik geli, yakni terdapat pada bagian perut, dada, dan di bagian dekat kemaluan. Inilah daerah yang paling mematikan. Jika tikaman tepat mengenai titik geli, paus akan segera mati dalam tempo empat sampai lima jam kemudian.

Kalau meleset? Wah, celaka, paus pasti mengamuk dan menyeret pledang sampai jauh. Kadang kala pledang diseret ke bawah air dan baru 2-3 jam kemudian muncul ke permukaan lagi. Ketika ditenggelamkan itulah para pemburu terpaksa menyelamatkan diri dengan berenang di laut, menunggu pledang lain menolong mereka.

Meski setiap hari melaut, belum tentu para pemburu berhasil menangkap seekor paus. Bisa saja mereka seharian di laut, tapi cuma berlayar. Maklum, mengejar paus di laut jauh berbeda dengan berburu hewan di darat. Paus bisa saja menyelam dan tidak muncul-muncul lagi. Kalau sudah begini, para pemburu pun cuma bisa menunggu sampai mamalia raksasa itu muncul kembali.

Dalam satu tahun biasanya ada sekitar 20 paus yang mampir ke Laut Sawu. Tapi para nelayan Lamalera paling cuma berhasil menangkap lima sampai enam ekor. Jadi, kesempatan untuk memburu—apalagi sampai berhasil menikam—paus memang sungguh langka.

Pantas jika Stevanus amat gembira begitu paus itu menyeret perahu mereka ke sana kemari. Nyatanya, setelah tiga jam berlangsung, akhirnya mamalia ini kehabisan tenaga, lalu mati. Perahu-perahu yang terlibat dalam perburuan itu kemudian dikerahkan untuk menyeretnya ke pantai.

Sesampai di pantai, bangkai paus dipotong-potong sesuai dengan bagian tiap pemburu. Sisanya dibagikan ke seluruh penduduk Lamalera yang tak ikut melaut. Bahkan seorang janda pun berhak mendapat pembagian daging paus. Syaratnya, ia cukup membawa sepiring jagung untuk ditukar dengan daging seberat tiga kilogram. Pendeknya, semua kebagian.

Malam harinya, seluruh masyarakat Lamalera pun bersuka-ria menikmati daging ikan paus sambil mendengarkan kisah heroik para nelayan yang membantainya.

Sejak awal Oktober lalu, musim berburu telah usai. Nelayan Lamalera tak lagi setiap hari berburu paus. Merelah beralih menekuni pekerjaan lain. Ada yang memancing ikan-ikan kecil, ada juga yang sibuk memperbaiki atau membuat rumah. Tapi, begitu terdengar teriakan “baleo-baleo“, mereka akan buru-buru pergi ke rumah-rumah pledang, lalu meluncur ke tengah laut. Warga Lamalera tidak pernah bosan menguji keberuntungan memburu paus, kendati tak selalu berhasil.

Kawanan paus pun tidak kapok-kapok dipanggil agar mendekati pantai, walau akhirnya mereka dibantai. (*)

Naskah ditulis pada 18 November 2002


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: