Posted by: beraona | December 13, 2011

MENSYUKURI KARYA AGUNG ALLAH DI LAMALERA

 BODE dan Lamalera. BODE dan Lembata. Keduanya sama-sama punya makna, ibarat dua sisi mata uang. Tak bisa dilepas-pisahkan. Bapa Bode atau Magun Bode, begitulah misionaris sejati asal Jerman itu disapa oleh masyarakat Lamalera dan seluruh masyarakat Lembata. Bagi Lamalera dan Lembata umumnya, Bode tak hanya sebuah nama. Ia adalah fenomena; tokoh religius dan juga tokoh sosial-kultural yang kharismatis. Ia telah berpulang ke Haribaan Sang Khalik Agung 20 Agustus 1978, 33 tahun lalu, di Rumah Misi SVD di Steyl, tapi nama dan jasanya adalah ceritera.

Ia menjadi bagian dari sejarah Lamalera, sejarah Gereja Katholik di Lamalera dan seluruh pelosok Pulau “Ikan Paus” Lembata. Artinya, ketika orang bicara soal Lamalera dan Lembata dan mempercakapkan sejarah Gereja Katholik, maka BODE adalah bagian penting dari gerbong sejarah itu.

Kini, Gereja Katholik Lembata melalui Lamalera memasuki usia ke 125 tahun. Pada episode ini, Gereja Allah Yang Hidup ( umat) mengenang BODE sebagai lokomotif yang menarik seluruh gerbong sosial, ekonomi, kultural dan iman Katholik. Ia menjadi misionaris pionir SVD yang telah meletakan fondasi iman katholik di Lembata. Karena itu, tidak salah kalau Pater Alex Beding, SVD dalam bukunya menyebut Pater Bode sebagai RASUL PULAU LEMBATA.

 

Maria Virgo

Mater vehementissime amata

in materna tua tutela

insula haec Lembata

omni tempore et omnes

Qui habitant dia ea

(Perawan Maria

Bunda teramat dikasihi

dalam perlindungan keibuanmu

kuserahkan nusa Lembata ini

dan semua penghuninya

selalu dan senantiasa)

 

Inilah sebait doa Pater Bernhard Bode, SVD, ketika pertama kali berlayar dari Larantuka ke Lamalera menggunakan peledang untuk memulai tugas misionarisnya. Doa ini didaraskan dengan sangat khusuk ketika Pater Bode mendapat tantangan perdana ketika melintasi laut nan ganas di wilayah Tanjung Naga, pada 24 September 1920. Dalam bukunya “Pater Bernhard Bode, SVD; RASUL PULAU LEMBATA”, Pater Alex Beding, SVD, menulis; ketika melintas di Tanjung Naga, yang lautnya selalu garang dan tak pernah tenang, Misionaris yang mengawali misinya di Togo, Afrika ini, mendengar ada suara yang bergemah menantang dirinya; “Hei, engkau datang untuk apa di sini? Pulau ini adalah milikku!”. Pater Bode menafsirkan itu sebagai suara roh kekafiran yang seakan mau menghalangi misi luhurnya membawa iman pembebasan bagi manusia yang terbelenggu dalam kegelapan dosa dan maut. Pater Bode tidak menyerah. Ia lalu menjawab dengan doa dalam hati; “Tidak! Tidak! Lembata harus menjadi milik Kristus!” Dari situlah Magun Bode menyerahkan Lembata dalam doanya kepada Santa Bunda Maria yang selalu membantu.

Bagi Pater Bode, tantangan yang mendebarkan jantung itu tak mengecilkan nyali untuk menjejakan kaki di tanah misi, Lamalera khususnya dan Lembata umumnya. Ia menerima tantangan alam itu sebagai konsekuensi dari sejumlah kesulitan yang menantang dan menghalangi usahanya membawa Injil Keselamatan bagi orang Lembata yang belum mengenal Kristus. “Tangan Tuhan selalu melindungi siapa saja yang percaya akan kuasa Cinta-Nya,” demikian keyakinan orang Lamalera sebagai pelaut-pelaut perkasa yang hanya dengan perahu buatannya sendiri harus mengarungi laut yang kadang ganas. Saat itu, Pater Bode mulai merasakan bahwa perutusan suci yang dibawah akan selalu dibayangi kuasa-kuasa kegelapan. Karena itu, sejak awal Pater Bode mempercayakan seluruh Lembata dalam perlindungan Bunda Yesus yang adalah Bunda Penolong yang amat setia. “Itulah pengalaman Pater Bode yang amat mengesankan di Tanjung Naga (Suba) karena ia mengalami perasaan kagum akan ciptaan Tuhan bercampur takut,” tulis Pater Alex, Imam sulung Lamalera ini.

Bayang-bayang kuasa kegelapan yang menyertai misi Pater Bode juga dialami ketika berlayar dari Surabaya ke Ende, Flores, yang menjadi tanah misi kedua bagi Misionaris Jerman ini. Setelah tiba di Ende pada 20 Juni 1920, Pater Regional B Glanemann yang berkedudukan di Ende menetapkan Pater Bode sebagai pastor untuk stasi Lamalera. Pertengahan Juli, sebuah kapal motor pemerintah membawanya ke Lela. Di tengah laut, menurut catatan pribadi Pater Bode yang dikutip P. Alex, seekor ular besar kira-kira 5 meter panjangnya melilit perahu motor kecil itu, lalu mengangkat kepalanya di haluan, kemudian menyelam dan menghilang dalam laut. Tiba di depan Lela, ombak besar sehingga mereka tidak berani mendekati pantai. Akhirnya dengan sebuah berok (sampan kecil bercadik), Pater Bode dijemput dan turun ke darat dengan selamat, selanjutnya dengan berkuda —-pengalaman yang baru baginya—, menuju Nobo, kemudian dijemput dengan kapal motor Arnoldus oleh Br Frans dan tiba di Larantuka pada 1 Agustus 1920. Ketika di Lamalera tersiar kabar mendapat seorang pastor, kepala kampung langsung mengutus orang dengan dua peledang untuk menjemput ke Larantuka. Artinya, kalau mereka tidak cepat bertindak, bisa saja Pater Bode ditunjuk untuk stasi lain. Niat tulus orang Lamalera inilah yang membuat Pater Bode merasa benar-benar dibutuhkan sehingga ia berusaha menunjukkan minatnya untuk mulai menanam kepercayaan antara dirinya dan umat Lamalera yang akan dilayani. Saat itu, Pastor muda dan energik itu ke Lamalera bersama bruder Frans Bakker dan 17 tukang dari Larantuka. 

 .****

 MENURUT  Pater Alex Beding, pada permulaan abad ke-16 (1512), misionaris-misionaris Portugis menyebarkan Injil di Amboina dan Ternate, sementara misi katholik di Flores danTimor dikonsentrasikan di Lohayong di Pulau Solor, yang akhirnya mendirikan sebuah benteng yang dinamakan Benteng Lohayong. Saat itu, Pulau Lomblen —-sekarang disebut Lembata—-, sebuah pulau yang cukup besar, tidak dikenal atau mungkin dengan sengaja tidak disinggahi kapal-kapal Portugis. Padahal, Lomblen hanya dipisahkan oleh selat sempit dengan Solor.

Ketika kekuasaan kolonial Belanda menggeser Portugal berdasarkan Traktat dari Lisabon pada 20 April 1859, Pulau Lomblen tetap tidak dikenal. Konsekuensinya, penduduknya tampak tidak tahu-menahu tentang suatu pemerintahan yang berkuasa atas mereka; Portugal dan Belanda. Yang pasti, misi katholik yang dikembangkan di Larantuka oleh misionaris-misionaris Dominikan, dilanjutkan pada 1860 oleh dua imam projo, tetapi tidak bertahan lama karena keduanya sakit dan harus meninggalkan Larantuka. Sebagai penggantinya, datanglah misionaris Jesuit pertama; Pater G. Metz, SJ di Larantuka pada 1863.

Nah, tentang pulau Lomblen (saat itu) belum ada suatu kabar berkaitan dengan karya misi, meski menurut sejumlah sumber sejarah misi katholik di Larantuka, dapat dipastikan bahwa kampung LAMALERA pernah berkenalan dengan paderi-paderi Donimikan sekitar 1620. Secara kebetulan dua imam Dominikan dalam pelayaran dengan sebuah sampan terdampar di pantai Lamalera karena dikejar oleh musuh-musuh yang pada akhirnya menuntut penyerahan diri mereka. Mereka tewas sebagai martir saksi-saksi iman di Lamakera, di pulau Solor. Dari peristiwa ini, para misionaris jesuit akhirnya berkenalan dengan orang-orang Lamalera yang saat itu sering ke Larantuka untuk berbelanja. Maka, mulai dicari cara untuk bisa membawa kabar Gembira Yesus Kristus ke pulau yang tidak dikenal itu.

Inilah awal upaya mulia misionaris jesuit, membawa misi katholik ke Lembata, yang akhirnya ditandai dengan peristiwa historis ketika di Lamalera, dua imam Jesuit; Pater C. Ten Brink dan Pater Y. De Vries mempermandikan 125 anak pada tanggal 8 dan 9 Juni 1886. Dengan demikian, gereja katholik secara resmi telah didirikan di Lembata melalui Lamalera. Momentum ini pantas disebut sebagai berkat Tuhan yang sangat istimewa; bagaikan membuka pintu untuk kedatangan Kristus dan Injil-Nya bagi pulau Lomblen/Lembata. Itulah saat Rahmat Tuhan sudah datang untuk Lembata melalui Lamalera.

Ironisnya, saat itu, betapa sulitnya perhubungan dengan Lamalera karena letaknya terisolir dan jaraknya cukup jauh dari Larantuka, yang bisa ditempuh dengan perahu bermotor sekitar 6 jam pelayaran melintasi laut Sawu yang kadang sangat bergelombangn terutama pada musim barat. Karena itu, perlu dipahami bahwa setelah peristiwa iman itu, hanya satu atau dua kali setahun seorang pastor datang dari Larantuka dan tinggal selama dua atau tiga minggu di Lamalera untuk mendampingi umat yang masih muda itu. Keadaan ini berlangsung hingga tahun 1896. Celakanya lagi, setelah itu Lamalera harus ditinggalkan lagi hampir selama tiga tahun karena ketiadan tenaga untuk melanjutkan karya pembinaan umat. Waktu pun terus bergulir. Baru pada tahun 1899, dimulailah kunjungan-kunjungan yang lebih sering. Bagi para misionaris Jesuit, Lamalera dianggap sebagai satu pos misi yang patut diperhitungkan karena mengandung harapan besar. Karena itu, para misionaris Jesuit merasa sangat berat jika mereka harus terpaksa melepaskannya hanya karena tidak cukup tenaga. Apalagi ketika itu diputuskan menarik semua misionaris Jesuit untuk melayani misi di Pulau Jawa. Pater Yosef Hoeberchts, SJ yang datang pertama kali ke Lamalera pada Mei 1904, selalu mengadakan torne yang cukup tetap ke Lamalera. Dia pula yang membuka sekolah pertama di Lamalera pada 1914, dan dia jugalah misionaris Jesuit terakhir yang berpamitan dengan umat di Lamalera pada 20 April 1917 untuk mengemban misi yang sama ke pulau Jawa.

Pada saat misi Jesuit berakhir di Larantuka, pimpinan stasi misi resmi dialihkan ke tangan SVD pada 1914. Dan di Lamalera, melalui buku permandian diketahui bahwa sudah muncul nama-nama misionaris Serikat Sabda Allah (SVD) seperti pater W. Baack dan Pater Karsten sebagai pengganti untuk melanjutkan karya pelayanan pastoral, pasca peralihan misi Flores dari misionaris-misionaris Jesuit kepada misionaris SVD. Tetapi itu juga masih merupakan kunjungan sewaktu-waktu. Hingga tiba saatnya seorang misionaris ditunjuk untuk menetap di Pulau Lembata melalui Lamalera, setelah menunggu hampir enam tahun.

Meski angkat kaki, tapi para misionaris Jesuit telah berhasil membuka jalan untuk mendirikan gereja di kawasan Nusa Tenggara, termasuk Lembata dengan pintu gerbangnya melalui Lamalera. Bagi Jesuit, Lamalera dipandang sebagai satu pusat misi yang memberi harapan di masa depan bagi berkembangnya agama Kristiani lebih luas di Lembata. Ini hanya mungkin kalau “tanah terjanji” ini diserahkan kepada suatu serikat misionaris lain yang dapat menyediakan tenaga secukupnya untuk tetap melayani umat. Dan, bantuan tenaga itu akhirnya dapat diberikan oleh Serikat Sabda Allah. Maka, melalui serikat-serikat misi Arnoldus Janssen, Lomblen alias lembata tidak akan lagi merupakan “dunia tidak dikenal”. Pater Bernhard Bode, SVD, sudah mengucapkan dengan tegas; “Lembata harus menjadi milik Kristus! Dengan karya misionernya yang luar biasa, dengan hatinya yang lembut penuh cinta, membuat Lamalera dan Lembata terkenal. Bapa Bode telah menunaikan panggilan suci; menjadikan Lembata milik Kristus!”.

 ***

SEJAK awal Pater Bode menyadari bahwa dia sendirian menghadapi satu tugas maha berat. Karena itu ia butuh bantuan. Selama dua tahun pertama dia seorang diri sebagai Pastor untuk seluruh Lembata. Dalam tahun 1921 datang Pater Hundler dan Pater Bouma untuk membantu dalam waktu singkat, demikian juga Pater Thoolen di tahun 1922 untuk memberi pelayanan di Lamalera dan Lerek. Lalu datang pula Pater Yosef Preissler yang menjadi pembantu tetap. Keadaan berangsur berubah dan pelayanan misi di Lembata mulai dibagi-bagi. Pater Preissler lalu dipindahkan ke Lewoleba pada 1923, dan akhirnya pada 3 Desember 1926 bersama pater Shroder membuka stasi baru di Lewoleba. Kunjungan para konfrater dari Larantuka perlahan memecahkan isolasi pastor Lamalera. Pater Bouma datang lagi khusus dalam kapasitas sebagai penilik sekolah dan bersama Pater Bode mengadakan inspeksi di sekolah-sekolah.

Barisan para pastor yang ditunjuk untuk berkarya di Lembata mulai bertambah. Hasilnya, beberapa stasi mulai didirikan, termasuk membangun gereja, seperti di Puor (1925), Lerek (1926), Mulankera/Lebala (1928), Aliuroba (1928), Lewuka (1928), Belang (1929), Boto/Kluang (1935), Mingar (1935) dan di Kalikasa (1935).

Selama menjalani karya pastoral keliling Lembata, Pater Bode dan pastor pembantu lainnya, berjalan kaki atau berkuda. Tiap pastor mempunyai satu atau dua ekor kuda. Pater Bode punya kuda bernama “Sina” yang dikenal kuat tetapi garang. Binatang itu patut dikenang karena ikut berjasa membawa “saksi Kristus” sebagai gembala yang tidak kenal lelah berkeliling ke mana saja, dalam panas dan terik matahari, dalam curahan hujan dan angin untuk mengunjungi dan melayani umat se-Lembata.

 ***

8 SEPTEMBER 2011 yang lalu, gereja katholik Lembata melalui Lamalera genap berusia 125 tahun. Perayaan peringatan peristiwa iman sarat makna ini dilaksanakan di Paroki Santu Petrus Paulus Lamalera, melibatkan seluruh paroki di Lembata. Inilah syukur bersama atas Karya Agung Allah bagi Lembata melalui Lamalera. PROFISIAT! +++ jos diaz beraona


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: