Posted by: beraona | December 13, 2011

DUH, MALAPETAKA MENGANCAM LEMBATA

“Lembataku sayang, Lembataku malang” begitulah ungkapan keprihatinan terhadap keadaan Kabupaten Lembata hari-hari ini, dibawah kepemimpinan Lembata Baru; Bupati Yance Sunur dan Wakil Bupati Viktor Mado. Keprihatinan terbesar adalah proses tender proyek yang diduga direkayasa dan dimonopoli kontraktor tertentu. Apalagi yang terlibat kolusi adalah mereka yang diharapkan bisa bersuara lantang terhadap ketidakadilan bagi masyarakat Lembata. Duh, Malapetaka sedang mengancam Lembata. 

Informasi akurat yang diterima koran ini, Kamis pekan lalu, proses lelang sejumlah proyek dicurigai diatur bersama oleh Bupati dengan sejumlah pimpinan dewan dan oknum anggota Komisi II dan III DPRD Lembata, termasuk mereka yang pada pemilukada kemarin berseberangan dengan Lembata Baru. Mereka diduga bersekongkol untuk mengatur proyek kepada orang tertentu yang adalah kroni bupati Lembata yance sunur. Skenario yang mereka desain adalah membawa-bawa nama Badan Anggaran sehingga terkesan seolah-olah Banggar berupaya untuk mendapat jatah (fee). “Tidak ada itu. Saya sudah cek ke teman-teman anggota Badan Anggaran dan tidak ada upaya untuk mendapat jatah dari proyek-proyek itu,” kata anggota Banggar DPRD Lembata, Anton Gelat, ketika dihubungi ke ponselnya, pekan lalu.

Anton menjelaskan, dibalik skenario dan kolusi ini, ada upaya pencatutan nama lembaga DPRD Lembata, yang ujungnya terjadi monopoli di sejumlah proyek kepada kontraktor tertentu yang adalah koleganya bupati yance sunur. “Nilai proyek yang diskenariokan untuk dimonopoli oleh kontraktor tertentu itu senilai Rp 14 miliar untuk tiga paket. Pada saat pengumuman, pemenang tender adalah kontraktor dari Waiwerang atas nama Karyono, tapi pada saat itu kontraktor yang dijagokan pejabat tinggi di Lembata (BT) spontan mengatakan bahwa dia memakai bendera dari Karyono. Ini kan menyalahi Keppres 54 tahun 2010 yang secara jelas menegaskan bahwa tidak dibolehkan menggunakan lebih dari satu bendera. Yang anehnya, panitia tetap mengumumkan saat itu. Ini kan jelas bahwa sudah ada skenario yang dilakukan secara bersama,” kritik wakil rakyat dari Partai Demokrat ini.

Ironisnya lagi, menurut Anton, kontraktor tersebut dalam penawarannya  hanya turun Rp 500.000 dari nilai tender sebesar Rp 8,5 miliar untuk proyek hotmix jalan dalam kota Lewoleba. “Kalau seperti ini, perlu dipertanyakan ada apa. Bagi saya, ini jelas rekayasa untuk memenangkan Karyono,” katanya. Akibat lanjutan dari itu, sebut Anton, daerah mengalami kerugian karena semangat Keppres 54/2010 tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah adalah negara atau daerah mendapat masukan. “Kalau penawaran seperti ini maka daerah tidak dapat apa-apa. Jadi ini jelas ada kolusi bersama oleh pejabat tinggi di Lembata baik di eksekutif maupun legislatif  dan ini adalah bentuk kejahatan terhadap keuangan daerah karena penawaran yang diajukan sangat tidak responsif,” tegas Anton. “Seburuk-buruknya rezim sebelumnya (Ande Manuk-Ande Liliweri), tapi tidak pernah melakukan hal seperti ini. Semua dilakukan sesuai regulasi dan ada persaingan yang sehat diantara para kontraktor yang ada di Lembata. Artinya, ada spirit responsif terhadap daerah,” Gelat membandingkan.

Anton menegaskan, sebagai anggota dewan, ia akan akan menggunakan haknya untuk meminta DPRD Lembata pada sidang paripurna nanti, agar dewan secara lembaga mengusut kejanggalan dalam proses tender proyek yang terkesan dimonopoli ini sehingga merugikan kontraktor lokal lainnya. “Saya juga akan menggunakan hak saya sebagai anggota badan anggaran melaporkan masalah ini ke kepolisian untuk diusut. Saya juga sudah berkoordinasi dengan struktur partai saya (Partai Demokrat), terutama dengan Ketua Komisi III DPR RI, DR Beny Harman, untuk melaporkan kasus ini ke KPK karena sudah ada (memenuhi) unsur tindak pidana korupsi (Tipikor); memperkaya diri dan orang lain. Pak Beny Harman akan memfasilitasi saya untuk melaporkan kasus ini ke KPK,” kata mantan Wartawan ini.

Jadi, “Atas fakta-fakta tersebut, selaku anggota Badan Anggaran DPRD, saya akan segera meminta pimpinan DPRD untuk memanggil Bupati Lembata guna mempertanggungjawabkan dan mengklarifikasi semua proses pelelangan itu sesuai dengan mekanisme yang ada di lembaga DPRD,” Anton menegaskan lagi.

Anton juga mengingatkan masyarakat agar mengawasi proses tender proyek tahun 2011 di Lembata. Karena proses pelelangan proyek pembangunan di Kabupaten Lembata tahun anggaran 2011 diduga terbungkus rapi praktek kolusi dan nepotisme. “Dari hasil pelelangan itu terbaca secara jelas ada monopoli dalam penetapan pemenang. Fakta itu dapat dilihat dari tampilnya satu kontraktor sebagai pemenang di beberapa paket pekerjaan milyaran rupiah,” katanya.

Ia mencontohkan, proyek pengadaan alat-alat pertanian pada Badan Ketahananan Pangan dan Penyuluhan Pertanian  (BKP3) Kabupaten Lembata, senilai Rp 1 miliar lebih, proyek pembangunan Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Lembata senilai Rp 2,6 milyar lebih dan juga proyek Hot mix senilai Rp 8,5 milar lebih, hanya satu kontraktor saja yang memenangkannya.

Selain itu, demikian Gelat, ada kejanggalan lainnya yakni satu kontraktor menggunakan tiga bendera yang berbeda pada saat pendaftaran tender. Hal ini sangat bertentangan dengan Keppres Nomor 54 tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa.

Secara terpisah, seorang warga Lewoleba kepada koran ini menuturkan, cara kerja bupati dan wakil bupati yang mulai amburadul ini menunjukkan bahwa yang bodoh adalah masyarakat Lembata karena telah dengan tahu dan sadar memilih pemimpin yang akhirnya menyengsarakan rakyat sendiri. “Kita tidak bisa salahkan siapa-siapa tapi kesalahan terbesar ada di rakyat yang telah memilih Yance dan Viktor. Sekarang baru kita mulai menyesal dan buka mata lebar-lebar untuk menyaksikan bagaimana Lembata sedang diurus oleh orang-orang berjiwa dagang (bisnis). Saat ini saja, kolega bisnis Bupati dan Ketua DPRD sedang berkeliaran di Lembata, entah untuk urus proyek, dll. Apa yang bisa kita buat sebagai masyarakat kecil ini?” gugat warga yang minta namanya tidak dikorankan. +++ jdz


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: