Posted by: beraona | April 15, 2012

KEBUDAYAAN SEBAGAI KEKUATAN

BUDAYAWAN dan Seniman Indonesia, Putu Wijaya, memandang NTT sebagai sebuah kawasan unik dan kaya akan kebudayaan. Persoalannya, kekayaan potensi itu belum diberdayakan secara maksimal karena belum disadari sebagai kekuatan. “Kebudayaan NTT belum dibuka pintunya. Orang NTT belum menyadari kebudayaan sebagai kekuatan,” kritik Putu Wijaya. Bagaimana pandangan Putu Wijaya terhadap NTT dan apa pesannya kepada seninam dan sastrawan NTT? Berikut petikan Wawancara Eksklusif HU Victory News dengannya di Kupang, Kamis (12/4).

Sebagai seorang seniman bagaimana anda melihat kebudayaan dan karya-karya seni NTT?
Saya melihat, secara potensi NTT sangat kaya akan budaya. Kebudayaan NTT itu unik, hanya saja tidak dikembangkan. Yang berkembang di sini justru dalam bidang keilmuan yang melahirkan orang-orang berintelek, padahal mempunyai organisasi kebudayaan yang hebat yang justru harus dikembangkan oleh orang-orang tersebut.
Saya juga dengar banyak lukisan dan ukiran tetapi disimpan saja di rumah. Padahal kalau dikeluarkan akan menambah nilai tersendiri dan tidak akan mengurangi nilai yang ada pada ilmu yang dimiliki. Jadi saya berkesimpulan bahwa kebudayaan NTT belum dibuka pintunya. Orang NTT belum menyadari kebudayaan sebagai kekuatan. Harus dibuka dan pemerintah harus memanfaatkannya, sementara rakyat sendiri jangan menunggu orang lain seperti pemerintah untuk membuka kebudayaan yang ada. Keluarkan sendiri apa yang ada karena ini merupakan kekuatan. Kalau dilihat dari tenunan, corak, dan aksesorisnya yang menunjukkan sebuah sejarah bahwa NTT memiliki kreativitas yang luar biasa. Saya juga melihat ada ukiran menunjukkan keterampilan dalam sebuah perjalanan yang panjang, tetapi tidak dipergunakan. Jadikanlah itu kekuatan dan tunjukkan itu kepada orang lain, mereka akan melihatnya kemudian membiayainya seperti di Bali. Ini butuh kerja sama yang baik.

Usaha-usaha apa yang harus dilakukan sehingga Kebudaaan NTT bisa dikenal di tingkat Nasional maupun Internasional?
Setiap orang NTT harus melihat kebudayaan dan kesenian itu sebagai sebuah kekuatan. Selain itu, harus ada kesadaran bahwa dia bukan hanya hiburan tetapi mengandung banyak hal di dalamnya. Ada filsafat, adat, sejarah, agama, dan ilmu lainnya yang perlu diajarkan kepada anak-anak sebagai penerus. Para guru juga harus mengerti bahwa ekspresi kesenian ini bukan hanya sekadar hobi melainkan menunjukkan rasa cinta. Ini sebuah ilmu yang memungkinkan kebudayaan itu bisa dikenal apalagi didukung oleh potensi yang ada di NTT, akan tetapi memerlukan waktu. Jangan sampai ditutup-tutupi dan lama-lama hilang. Karena itu, harus terbuka terhadap pembaharuan asal memiliki tujuan yang jelas. Untuk mewujudkan ini harus ada pengamat, mengundang orang-orang luar ke NTT untuk memberikan pertunjukkan, memberikan komentar, dan masukkan. Selain itu jangan ragu untuk mengirim misi budaya ke luar NTT dan belajar dari sana.

NTT juga punya seninam dan sastrawan. Bagiamana seharusnya mereka berperan?
Saya ingin mengatakan, NTT memiliki potensi yang kuat sekali, unik, lain dari yang lain, tetapi janganlan horisonnya hanya untuk Kupang, harus untuk Nasional dan Internasional. Para seniman dan sastrawan jangan menciptakan karya seni hanya untuk dinikmati oleh orang Kupang saja melainkan untuk dunia sehingga memiliki masa depan yang panjang. Jadi jalan panjang dan proyeknya panjang, karena itu cobalah memakai trik orang lari maraton, lari dengan langkah yang panjang. Harus ada investasi kultural dengan pengamat (kritikus) harus lebih banyak. Para pejabat pengambil kebijakan harus menyadari pentingnya kebudayaan dalam pembangunan. Pembangunan bukan hanya untuk membangun jalan tanpa kekuatan spiritual oleh seniman dan karyanya.

Nilai apa yang bisa dimaknai dari seluruh rangkaian kegiatan yang diselenggarakan Rumah Poetika?
Tiga tahun lalu saya pernah datang ke Kupang, jumlah penonoton maupun pesertanya sangat banyak, tetapi saat ini tidak begitu banyak. Menyelenggarakan suatu  peristiwa tidak hanya menyelenggarakannya melainkan harus menggerahkan massa. Harus ada jaminan bahwa kegiatan yang akan dilaksanakan harus sukses. Kalau tidak punya niat untuk meraih kesuksesan kenapa diselenggarakan? Setiap even dijamin meriah artinya para pejabat maupun orang lain akan merasa rugi kalau tidak datang dan menyaksikannya. Materinya sudah bagus tetapi harus menggerakkan massa. Barangkali tempat ini sulit untuk dijangkau. Selain itu jam karet masih ditolerir oleh panitia.

Apa kesan anda selama berada di Kupang?
Saya rasakan di Kupang ada persahabatan, ada kejujuran, dan ada keluguan. Akan tetapi ada kekurangannya. Saya melihat di hotelnya mewah tetapi rumah di sekitar hotel tidak terpelihara. Selain itu orang NTT terlalu jujur sampai tempat duduk orang lain pun diduduki. Tetapi perlu ada pembelajaran bahwa semua barang ada pemiliknya. Ada orang lain perlu pembelajaran untuk menghormati hak orang lain. Pergaulan yang lebih besar menimbulkan pengetahuan kita kepada apa yang kita lakukan. (josh diaz)

Tulisan ini dimuat Harian Umum VICTORY NEWS

Edisi Minggu, 15 April 2012, di Rubrik SASTRA dan BUDAYA

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: